Bulan: September 2016

Proyek Pavingisasi Parkir Kargo Dilanjutkan

No Comments

Proyek Pavingisasi Parkir Kargo Dilanjutkan

MAYANGAN – Munculnya laporan terkait bahan pemavingan Fasilitas parkir Kargo tentnag penggunaan tanah urug sebagai pengganti sirtu akhirnya dianggap selesai. Itu setelah hasil uji laboratorium kualitas sirtu dari Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang, keluar. Hasilnya, tanah yang digunakan untuk pemasangan paving merupakan sirtu kualitas B.

Hal ini diungkapkan oleh Hari Pujo, konsultan pengawas Proyek pemasangan paving saat Rapat Dengar Pendapat (RDP), Selasa (26/9). Hasil tes menunjukkan, bahwa tanah yang digunakan untuk pemavingan merupakan sirtu dengan kualitas B.

“Hasil tes ITN ini sama hal dengan yang kami lakukan sebelum pelaksanaan proyek ke ITS. Yakni sirtu dengan kualitas B,” ujarnya.

Hari menjelaskan, untuk menentukan jenis tanah, tidaka bisa hanya melihat secara visual. Namun harus dilakukan pengujian, karena dalam sirtu pun ada kandungan tanah juga.

“Masyarakat umum menilai bahwa sirtu itu pasir batu saja. Padahal ada kandungan tanah yang berfungsi untuk mengikat batu dalam sirtu,” jelasnya.

Hal yang sama juga diungkapkan Kabid Cipta Karya pada Dinas PU setempat, Andre Nirwana Kusuma. Menurutnya, sirtu memiliki tingkatan-tingkatan kualitas. Yang paling rendah adalah sirtu kelas C.

“Dalam sirtu itu tidak hanya terdiri dari pasir batu saja. Namun juga ada kandungan tanah lempung,” jelasnya.

Sementara itu, anggota Komisi C DPRD setempat, Hamid Rusdi sempat mempertanyakan kualitas tanah yang digunakan untuk pemavingan. Dari yang dilihat Komisi C saat sidak, terdapat perbedaan tanah yang digunakan di sisi utara dan sisi selatan tempat parkir kargo.

“Untuk di sisi utara, bahan yang digunakan paving tanahnya bagus yaitu sirtu. Namun di sisi selatan, tanahnya tidak sebagus tanah di sisi utara. Apakah lokasi pengambilan tanahnya berbeda? Selain itu apakah ada klasifikasi jenis tanah sirtu?” ujar politisi Partai Gerindra ini.

Saat disinggung mengenai perbedaan kontur tanah di sisi utara dan selatan, Hari menjelaskan, bahwa untuk penggunaan sirtu diambilkan dari 2 lokasi yakni Ranu Grati dan Sedarum.

“Keduanya (kedua jenis tanah) di mix kan saat pelaksanaan proyek dengan kadar campuran 60 berbanding 40. Itu bukan berarti tidak sesuai spek, tapi memang dibutuhkan campuran sirtu,” jelas Hari saat hearing.

Karena dianggap tak ada lagi persoalan, Ketua Komisi C, Agus Rianto merkomendasikan agar pavingisasi fasilitas parkir tersebut menyampaikan pandangan komisi terkait persoalan laporan masalah pemavingan fasilitas parkir kargo.

“Pemavingan terminal kargo bisa diteruskan denegan mengacu pada hasil lab yang telah dikeluarkan oleh ITN tersebut. Tidak hanya, semua material yang digunakan harus dilakukan tes untuk menguji kualitas bahannya,” ujarnya. Politisi PDIP ini meminta agar Dinas PU selalu melaporkan perkembangan pengerjaan tersebut.

“Selain itu, jika ada pengaduan terkait pengerjaan proyek, wajib disertakan hasil uji lab pembanding. Sehingga tidak hanya sekedar berbekal laporan saja,” ujarnya. (put/rf)

Categories: Uncategorized

Bukti SK Kemenkum HAM Belum Ada

No Comments

Bukti SK Kemenkum HAM Belum Ada

GADING – Pemkab Probolinggo memastikan tidak ada bukti fisik Yayasan Padepokan Dimas Kanjeng yang berdiri di Desa Wangkal, Kecamatan Gading memiliki SK Kemenkum HAM. Sebab, hingga saat ini pihak Yayasan Padepokan belum juga menyerahkan surat izin pendirian Yayasan tersebut.

Hal itu disampaikan Kabid Hubungan Antar Lembaga (HAL) dan Integrasi Bangsa Kesbangpol Linmas Kabupaten Probolinggo, Achmad Arifin.

Saat ditemui di Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi kemarin, Arifin mengatakan, kedatangannya bersama tim Badan Kesbangpol Linmas, Dinas Sosial (Dinsos) dan Dinas Kesehatan (Dinkes) sebagai tindak lanjut dari penangkapan Dimas Kanjeng Taat Pribadi, pembina Yayasan Padepokan tersebut.

”Kami di sini dari Badan Kesbangpol Linmas, mencari data dan klarifikasi soal izin pendirian Yayasan ini. Singkatnya kami masih akan mengindentifikasi pendirian yayasan,” katanya kepada Jawa Pos Radar Bromo, Senin (26/9).

Arifin mengungkapkan, dari informasi yang ada, Yayasan Padepokan itu sudah memiliki izin berupa SK Kemenkum HAM dari pusat. Tetapi, hingga saat ini belum ada bukti fisik yang bisa ditunjukkan oleh pihak Yayasan Padepokan.

”Di Papan yang ada di halaman Padepokan memang ada nomor surat SK Kemenkum HAM. Tetapi, secara fisik kami tidak pernah ditunjukkan SK Kemenkum HAM itu. Jadi kami pun menyimpulkan SK Kemenkum HAM itu tidak ada,” terangnya.

Hasil identifikasi itu menurut Arifin, akan disampaikan pada Bupati Probolinggo Puput Tantriana Sari untuk meminta petunjuk.

”Hasil identifikasi ini kami sampaikan dan meminta petunjuk pada ibu Bupati. Kita masih menunggu petunjuk dari ibu Bupati seperti apa,” ujarnya.

Sementara itu, Marwah Daud Ibrahim, ketua Yayasan Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi saat dikonfirmasi menegaskan, pendirian Yayasan Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi sudah memiliki izin resmi berupa SK Kemenkum HAM.

Hanya saja, pihaknya saat ini belum sempat menyerahkan. Sebab, masih ada urusan lain yang berhubungan dengan Dimas Kanjeng.

”Kami siap untuk menunjukkan SK Kemenkum HAM itu. Nanti apakah kami harus datang sendiri ke pendapa Bupati untuk menyerahkan SK Kemenkum HAM ini atau menyerahkan ke kecamatan. Apapun, kami siap,” tegasnya. (mas/hn)

Categories: Uncategorized

Drag Bike Nekat Langgar Larangan Polisi

No Comments

Drag Bike Nekat Langgar Larangan Polisi

MAYANGAN-Belasan pembalap dari 245 pembalap dalam ajang Drag Bike di Jalan Mastrip, Kota Probolinggo, nekat melanggar larangan polisi, Minggu (18/9).

Belasan pembalap asal luar daerah itu nekat turun arena dengan tak memakai wearpack alias baju pengaman seperti diharuskan Polres Probolinggo Kota.

Padahal, sebelumnya sudah ada kesepakatan antara panitia dengan Polres Probolinggo Kota. Yakni, setiap pembalap harus melengkapi diri dengan wearpack.

Tapi, ternyata kesepakatan ini banyak tak sampai ke peserta asal luar daerah. Sehingga, mereka tak siap dengan wearpack-nya.

Kapolres Probolinggo Kota AKBP Hando Wibowo melalui Kasatintel Iptu Dartok Darmawan mengatakan, pihaknya mengizinkan drag bike dilakukan di wilayahnya dengan catatan tetap mengutamakan keselamatan pengemudi. Sehingga, peserta diwajibkan menggunakan wearpack selayaknya race. Meski dalam aturan drag berbeda dengan race.

Dartok mengatakan, menurut panitia, sesuai aturan Ikatan Motor Indonesia (IMI), drag hanya menggunakan pengaman kaki, tangan, dan kepala. Tapi, sesuai kesepakatan polres dan panitia, ada aturan tambahan. Yakni, pembalap harus menggunakan wearpack.

“Setelah dilakukan koordinasi, panitia bersedia dengan adanya aturan tambahan ini. Kami tidak mengubah aturan yang ada. Hanya kami menambahkan adanya wearpack demi keselamatan pengendara. Itu, sudah disetujui. Jika tidak, kami tidak akan mengeluarkan rekomendasi,” ujar Dartok.

Namun, adanya aturan tambahan ini ternyata belum bisa diterima oleh sejumlah tim. Sehingga, pembalap mereka nekat turun lintasan tanpa wearpack. Karenanya, masalah ini sempat menjadi perdebatan antara pihak keamanan, peserta, dan panitia. Terutama, peserta dari luar daerah.

Maklum, dalam drag kemarin juga banyak peserta dari luar daerah. Seperti, Blitar, Kediri, Gersik, dan Malang. Sejumlah tim dari luar daerah merasa tak mendapatkan informasi terkait adanya aturan tambahan ini.

Selain itu, juga tidak adanya aturan untuk drag menggunakan wearpack. Serta, banyak tim kecil yang tidak memiliki wearpack.
Peserta juga tidak mau memakai wearpack yang disediakan panitia.

Alasannya, pembalap akan merasa tidak nyaman karena tidak terbiasa. Sehingga, akan mengganggu jalanya perlombaan.

“Untuk lokal dam pemula okelah bagus dengan wearpack. Namun, bagi kami itu justru menjadi bomerang. Soalnya, joki kami tidak biasa dengan wearpack. Apalagi, yang disediakan ukuranya besar. Kami selalu mengikuti peraturan yang ada. Dan, yang kami pahami, tidak ada aturan di IMI menggunakan wearpack untuk drag,” ujar salah satu personel tim asal Gersik yang enggan namanya dikorankan.

Setelah sempat bedebat panjang, balapan akhirnya dilajutkan. Pihak kepolisian akhirnya mengalah dan panitia melanjutkan balapan meski ada belasan peserta yang tak memakai wearpack.

Panitia juga menegaskan, akan bertanggung jawab penuh bila terjadi apa-apa kepada pembalap asal luar daerah. “Kami akan bertanggung jawab penuh, bahkan jika perlu kami siap hari ini juga (kemarin) menandatangani perjanjian tentang tanggung jawab ini,” ujar penanggung jawab perlombaan yang juga panitia, Aji di hadapan Dartok.

Aji mengakui adanya aturan tambahan itu. Pihaknya juga telah menginformasikan kepada peserta. Tapi, ternyata masih ada peserta yang tak siap dengan wearpack. Mendapati itu, Dartok mengatakan, tak akan bertanggung jawab bila terjadi sesuatu pada pembalap yang tak mematuhi aturan.

“Kalau misalkan kesepakatan dari panitia tetap dilanjutkan dengan tidak menggunakan wearpack, jika terjadi apa-apa, tanggung jawab sepenuhnya diserahkan ke panitia,” ujarnya.(rpd/rud)

Categories: Uncategorized

Kapolres Imbau Pengikut Dimas Kanjeng Pulang

No Comments

Kapolres Imbau Pengikut Dimas Kanjeng Pulang

GADING – Empat hari setelah ditangkapnya Dimas Kanjeng Taat Pribadi, Polres Probolinggo mulai fokus pada keamanan dan ketertiban Padepokan yang ada di Desa Wangkal, Kecamatan Gading itu.

Senin (26/9), Kapolres Probolinggo AKBP Arman Asmara Syarifuddin menyisir Padepokan dan mengimbau para pengikut Padepokan untuk pulang ke daerah asal masing-masing.

Imbauan itu tidak main-main. Selain melakukan pendekatan dan memberi penjelasan pada para pengikut Padepokan, Kapolres juga meminta pengikut untuk menurunkan foto pigura Dimas Kanjeng yang banyak dipajang di tenda-tenda pengikut.

Kapolres juga meyakinkan bahwa Pembina Yayasan Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi itu, benar-benar ditangkap dan ditahan di Mapolda Jatim. Kapolres bahkan menunjukkan foto-foto Dimas Kanjeng saat ada di Polda Jatim melalui handphone-nya.

Kondisi Padepokan sendiri, hingga kemarin masih dikawal ketat petugas. Ratusan personel dari Polres Probolinggo dan Brimob Polda Jatim ada di lokasi, melakukan pengamanan.

Di tiap sudut, ditempatkan sejumlah personel kepolisian yang bertugas menjaga. Termasuk di sejumlah bangunan atau tempat yang terpasang police line.

Mengingat, masih ada sekitar 300 pengikut Padepokan yang tinggal di lapangan Padepokan tersebut. Selain itu, tidak jarang warga sekitar atau luar desa sengaja datang untuk melihat situasi di Padepokan.

Sementara itu, penyisiran oleh Kapolres dilakukan selama sekitar 1,5 jam. Kapolres sampai pukul 10.00 di Padepokan dan langsung menyisir tenda-tenda pengikut Padepokan sampai pukul 11.30.

Penyisiran dilakukan dengan pengawalan ketat personel Polres Probolinggo dan Brimob Polda Jatim. Selama 1,5 jam itu, Kapolres tidak hanya mengecek kondisi keamanan di lokasi penggrebekan dan penangkapan Dimas Kanjeng.

Namun, juga menyisir tenda-tenda tempat tinggal para pengikut. Guna memberikan imbauan pada mereka untuk segera pulang ke rumahnya masing-masing.

Bersama Kapolres, ikut juga sejumlah instansi terkait di lingkungan Pemkab Probolinggo. Ada Dinas Kesehatan, Satpol PP, Dispenduk Capil, Dinas Sosial dan Badan Kesbangpol Linmas.

Mereka berjalan kaki mengitari tenda-tenda pengikut yang berdiri di atas lahan sekitar 4  hektar itu. Dimulai dengan menyisir tenda yang berada di sisi barat masjid Padepokan sampai ke tenda paling utara.

Tidak berhenti di situ, Kapolres juga menyisir tenda-tenda dan menemui pengikut yang ada di sisi utara rumah Dimas Kanjeng.

Saat itulah, Kapolres meminta para pengikut Padepokan untuk menurunkan foto pigura Dimas Kanjeng yang banyak dipajang di tenda-tenda tersebut.  Kapolres lantas memperlihatkan foto-foto Dimas Kanjeng melalui handphone-nya.

Di foto-foto itu terlihat jelas, Dimas Kanjeng menggunakan kaos tahanan Polda Jatim dan sedang dijenguk oleh keluarganya. Hal itu dilakukan Kapolres guna meyakinkan para pengikut, bahwa Dimas Kanjeng benar-benar ditangkap. Isu yang mengatakan, bahwa yang ditangkap adalah ghaib-nya Dimas Kanjeng, tidak benar.

Kapolres Probolinggo AKBP Arman Asmara saat dikonfirmasi mengatakan, pasca penggrebekan dan penangkapan terhadap Dimas Kanjeng, tugasnya kali ini memastikan kondisi kamtibmas.

Karena itu, pihaknya menghimbau para pengikut untuk segera pulang ke rumah masing-masing. Sebab, Dimas Kanjeng benar-benar ditangkap dan ditahan di Mapolda Jatim.

”Ada isu yang berkembang, bahwa Dimas Kanjeng yang ditangkap itu ghaibnya. Karena itu, kami melakukan pendekatan untuk memberikan penjelaskan soal kebenaran penangkapan Dimas Kanjeng itu,” katanya kepada Jawa Pos Radar Bromo, kemarin (26/9).

Kapolres mengungkapkan, hingga saat ini sebagian besar pengikut Padepokan sudah pulang ke kampung halaman masing-masing. Diperkirakan, saat ini hanya tersisa sekitar 300 orang yang tinggal di tenda-tenda.

Karena itu, pihaknya terus menghimbau pada mereka untuk segera pulang. ”Bisa dilihat, situasi di tenda-tenda tempat tinggal para santri itu. Jumlah mereka yang ada di tenda-tenda itu sangat sedikit. Sebab, sebagian besar sudah pulang dijemput keluarganya dan ada yang pulang sendiri,”  terangnya.

Sementara itu, Marwah Daud, Ketua Yayasan Padepokan Dimas Kanjeng mengatakan, menjadi hak semua warga untuk bisa berkunjung dan tinggal di mana saja.

Termasuk di Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi yang ada di RT 22/RW 08, Dusun Sumber Cengkelek, Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo. Tidak ada aturan yang mengharuskan izin untuk bisa tinggal melakukan kegiatan santri.

”Banyak pondok-pondok yang ditempati para santri dari berbagai luar daerah. Mereka tidak perlu izin. Tidak ada yang bisa melarang para santri padepokan dari berbagai daerah di Nusantara ini untuk tinggal dan mengikuti kegiatan di padepokan,” ungkapnya. (mas/hn)

Categories: Uncategorized

5 Orang Perhutani Tertimpa Pohon

No Comments

5 Orang Perhutani Tertimpa Pohon

LUMBANG – Kegiatan menanam pohon Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Malang, Pasuruan, dan Probolinggo, di Desa Sapih, Kecamatan Lumbang, Kabupaten Probolinggo, menemui petaka. Selasa (27/9), dari 125 rombongan, 5 orang tertimpa pohon tumbang.

Dua di antaranya, mengalami luka parah. Para korban itu di antaranya, Ummi, 46, staf Biro Perencanaan KPH Malang; Lusi Trihana, 46, ketua Seksi Perencanaan Hutan 4 Malang; Sela, 32, dan staf Biro Perencanaan KPH Malang; Imanuel, 33

Kemudian staf Seksi Perencanaan Hutan 4 Malang; dan Titin Agustina, 47, kasi KPH Pasuruan. Kemarin, mereka sempat dilarikan ke Puskesmas Lumbang.

Kapolsek Lumbang AKP Mustadji mengatakan, kejadian bermula ketika rombongan dari KPH Malang, KPH Probolinggo, dan KPH Pasuruan, hendak melakukan penanaman pohon bersama. Mereka menanam pohon di Desa Sapih, Kecamatan Lumbang, Kabupaten Probolinggo.

Saat asyik menanam, mendadak cabang pohon kamelina berdiameter sekitar 20 sentimeter dan tinggi 12 meter itu tumbang. Nahas, cabang pohon itu langsung menimpa lima orang. Mereka pun langsung dievakuasi ke Puskesmas Lumbang.

Namun, melihat kondisi yang tidak memungkinkan, sekitar pukul 10.15 WIB, para korban langsung dirujuk ke sebuah rumah sakit di Malang. “Mereka dirujuk ke rumah sakit di Malang karena patah tulang dan luka di kepala. Kemungkinan gagar otak ringan, 4 orang perempuan dan 1 orang laki-laki,” ujar Mustadji.

Categories: Uncategorized

Ratusan Rider Unjuk Tangguh dalam Sunrise Trail Adventure Bromo

No Comments

Puspo (wartabromo) – Sport tourism event, Puspo-Bromo Sunrise Trail Adventure kembali digelar. Lebih dari 900 rider dari berbagai daerah unjuk ketangguhan menunggangi kuda besi di medan yang ekstrem.

IMG_20160925_235024Trail adventure tahun ini mengambil rute dari lapangan Puspo kemudian masuk ke hutan. Keluar dari hutan naik ke Puncak Penanjakan.

“Pos I di Penanjakan. Dari Penanjakan kembali masuk hutan dan finish di lapangan Puspo. Total jarak tempuh 100 KM. Even ini sengaja menonjolkan potensi Penanjakan,” kata Heri Supriyanto, Ketua Puspo-Bromo Trail Club (P_Trac), Heri Supriyono, Minggu (25/9/2016).

Heri menyatakan, para rider selain disuguhi medan ekstrem, juga pemandangan yang indah. Setiap tahun, trak akan dirubah demi unsur kejutan.

“Tahun ini rider yang ambil bagian dari hampir semua daerah di Jawa Timur. Ada dari Jogjakarta juga dari Jawa Tengah hingga Kalimantan. Ada juga dua peserta asing. Saya berharap tahun depan semakin banyak pesertanya,” jelasnya.

Rider yang mengikuti even ini berasal dari club-club trail, baik komunitas maupun instansi-instansi pemerintahan. Salah seorang rider dari Polres Pasuruan AKP Nanang Sugiono menyatakan medan yang dilalui sangat menantang. “Tapi seru, bikin ingin nyoba lagi,” tukas Kasatnarkoba ini.

Even trail ini diyakini mampu membantu promosi wisata kawasan Bromo. Dampak jangka pendek bisa menciptakan keramaian yang bisa dimanfaatkan warga sekitar untuk berjualan.

“Ide ini murni dari pemuda Puspo. Mereka punya kesadaran dalam promosi wisata. Pemerintah memberi menyambut baik dan meberikan dukungan penuh,” kata Bupati Irsyad Yusuf yang hadir dalam acara.

Selain trail adventure di Puspo ini, sebuah sport tourism lainnya juga sukses digelar di kawasan Bromo, yakni Bromo Marathon.

Categories: Uncategorized

MUI Yakini Ajaran Dimas Kanjeng Sesat, Ini Sebagian Penyimpangannya

No Comments

Gading (wartabromo) – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Probolinggo menemukan adanya penyimpangan ajaran Islam yang dianut pimpinan dan santri padepokan.

Penggerebekan padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi yang dilakukan Kepolisian Daerah Jawa Timur pada 22 September lalu, menjadi pembuka sejumlah pelanggaran hukum yang terjadi di padepokan yang berdiri sejak tahun 2005 lalu.

Setelah dugaan pembunuhan dua bekas santri padepokan Ismail Hidayah dan Abdul Gani, terkuak. Kini diketahui padepokan mengajarkan ajaran agama Islam secara sesat.

MUI setempat yang telah melakukan penyelidikan selama dua tahun, kini lebih leluasa menginterogasi santri maupun orang-orang terdekat Dimas Kanjeng Taat Pribadi.

Hasilnya MUI memastikan jika ajaran Islam di padepokan telah menyimpang dari  Al-Qur’an dan hadist. Pokok penyimpangan terletak pada bacaan HUU sebanyak 41 kali usai surat Al-Fatihah setelah dua raka’at awal.

Selain itu, terdapat juga ajaran sholat dengan menganut sholat nabi-nabi terdahulu, seperti sholat versi Nabi Sulaiman atau sholatnya Syeikh Abdul Qodir Al-Jaelani. Tidak ingin menjadi polemik panjang, temuan ini lalu dirapatkan MUI dengan Polres Probolinggo.

“Ya tentu pertama kita kan ada komisi dakwah, kemarin kyai dan ketua umum sudah menyampaikan kembalilah ke jalan yang benar. Memang tidak mudah tapi harus kita lakukan. Di sana kami lihat itu kan banyak macamnya, dipastikan sesat,” ujar Sekretaris MUI Kabupaten Probolinggo Yasin Abdurrohim, Minggu (25/9/2016).

Dilain pihak, selain terus mengembangkan kasus pembunuhan dua bekas santri, kepolisian juga terus tengah mempelajari dugaan penipuan dengan modus penggandaan uang yang dilakukan pemimpin padepokan.

“Masyarakat yang merasa tertipu agar melakukan pengaduan ke posko pengaduan tepatnya Satreskrim. Kami sudah buka posko pengaduan sejak empat bulan namun sejauh ini belum ada yang melapor,” kata Kapolres Probolinggo AKBP. Arman Asmara Syarifuddin.

Categories: Uncategorized

Mabuk, Seorang Pria Bacok Dua Warga Yang Tengah Tidur di Probolinggo

No Comments

Mabuk, Seorang Pria Bacok Dua Warga Yang Tengah Tidur di Probolinggo

seorang-pria-bacok-dua-warga-yang-tengah-tidur-di-probolinggo

MAYANGAN – Sekali lagi, minuman keras (miras) terbukti menjadi salah satu pemicu aksi kriminal. Seperti yang dilakukan Satuki,  55, warga Jalan WR. Supratman, Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mayangan, Kota  Probolinggo.

Ia membacok dua warga sekaligus saat keduanya tengah tidur di teras rumah, dinihari kemarin (21/9). Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Bromo menyebutkan, saat itu Agung Darmawan, 35, dan Joko Imam Santoso, 35, keduanya warga Jalan Teuku Umar, Gang Gadingan, Kelurahan Jati, Kecamatan Mayangan, tengah tiduran di teras rumah Agung.

Sekitar pukul 03.00, Satuki yang diketahui mabuk melintas di depan rumah korban. Menurut warga, pelaku yang saat itu membawa celurit langsung membacok korban Joko yang tengah tidur. Joko yang kaget tak mampu memberikan  perlawanan karena kondisinya terluka.

Aksi pelaku kemudian membangunkan Agung Darmawan. Ia yang melihat Joko terluka langsung memberikan perlawanan. Hanya saja, karena perlawanannya dengan tangan kosong, sabetan celurit pelaku juga melukai telapak tangan kirinya.

Ribut-ribut antara pelaku dan korban kemudian membangunkan warga lainnya. Warga yang berdatangan langsung mengamankan  pelaku berikut barang buktinya. Pelaku lantas dibawa ke Mapolres Probolinggo Kota untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Sementara kedua korban langsung dilarikan ke UGD RSUD dr. Mohammad Saleh. Kasat Reskrim AKP Trisno Nugroho mengatakan, pelaku memang dalam kondisi mabuk saat  membacok kedua korban. “Tanpa mengatakan apa-apa, langsung melakukan penganiayaan  dengan cara membacok Joko,” terangnya.

Hingga siang kemarin, pelaku belum dimintai keterangan karena masih dibawah pengaruh alkohol. Sementara itu, ketika koran ini mendatangi rumah sakit, korban dinyatakan sudah pulang. Meski sudah pulang, namun korban yang masih dalam perawatan belum  bisa dimintai ketarangan.

Categories: Uncategorized

Satu Tersangka Pembunuhan Yang Menjerat Anggota Padepokan “Dimas Kanjeng” Meninggal

No Comments

KRAKSAAN – Dari tujuh orang anggota Padepokan Dimas Kanjeng yang ditahan di Mapolda Jatim terkait kasus pembunuhan, satu orang di antaranya meninggal Sabtu (25/6) lalu. Polisi memastikan satu tersangka kasus pembunuhan itu meninggal karena sakit.

Informasi yang dihimpun jawa Pos Radar Bromo, tersangka yang meregang nyawa itu adalah Etto Sutaye alias Badrun warga Desa Rejing, Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolingo. Ia mengembuskan nafas terakhir di RS Bhayangkara H.S Samsoeri Mertojoso pada Sabtu (25/6) sekitar pukul 18.30.

Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Raden Prabowo Argo Yuwono membenarkan meninggalnya seorang tersangka kasus pembunuhan tersebut. “Dia (Badrun) sakit perut sejak Kamis (23/6),” ujar perwira polisi dengan  tiga melati di pundaknya itu kepada Jawa Pos Radar Bromo, tadi malam.

Nah, sejak sakit perut itu, tersangka Badrun juga disebutkan tak mau makan selama dua hari. Kondisi tubuh Badrun punakhirnya terus drop. “Sabtu pagi ia dirawat di ICU RS Bhayangkara. Namun, Sabtu petang sekitar pukul 18.30-an sudah meninggal. Jadi, meninggal karena sakit. Ia tak mau makan,” bebernya.

Argo sendiri masih enggan membeberkan secara detail Badrun dan enam anggota Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Ia hanya menyebut, ketujuh orang itu terlibat kasus pembunuhan berencana. “Sekarang masih gelar-gelar perkara. Saya belum bisa menjelaskan detail kasusnya,” beber Argo.

Sementara itu, kuasa hukum para tersangka, M Sholeh mencurigai kematian salah satu kliennya. Menurutnya, saat itu ia mendapati wajah Badrun penuh luka lebam. Lantaran itu, Sholeh pun meminta dilakukan otopsi atas mayat Badrun di RSUD dr Soetomo,  Surabaya.

“Saya sudah dikuasai oleh pihak keluarga untuk melakukan otopsi,” jelas pengacara asal Surabaya ini. Terpisah, Kapolres Probolinggo AKBP Arman Asmara Syarifuddin mengatakan, Badrun meninggal dunia di RS Bhayangkara. Ia sempat dirawat di rumah sakit tersebut sekitar pukul 14.30 karena trombositnya menurun.  Namun, pada pukul 18.05, ia  meninggal  dunia.

“Dari hasil visum, Badrun meninggal dunia karena leukosit,” tutur mantan Kasubdit III Ditresnarkoba Polda Metro Jaya ini. Seperti diketahui, ketujuh pelaku ditangkap diduga terkait kasus pembunuhan berencana. Kuasa hukum ketujuh tersangka sendiri belum mengetahui secara pasti kliennya ditahan terkait kasus pembunuhan yang mana.

Hanya, sang kuasa hukum menyebut, ada dua kasus yang dikaitkan dengan ketujuh kliennya itu. Yakni, pembunuhan atas Ismail Hidayah yang mayatnya ditemukan di Tegalsono, Tegalsiwalan, Kabupaten Probolinggo, Februari 2015 silam dan Abdul Ghani yang mayatnya ditemukan di sungai Kabupaten Wonogiri, April lalu.

Kebetulan, Abdul Ghani dan Ismail Hidayah juga kenal dengan ketujuh tersangka tersebut. Mereka kenal karena pernah aktif di Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Sahal jadi anggota yayasan sejak 2003 silam. Sementara  enam tersangka lainnya rata-rata  mulai bergabung di padepokan pada 2013 silam.

Categories: Uncategorized

Ciptakan Sikap dan Perilaku Siswa

No Comments
Penulis : Wawan
Rabu, 21 September 2016

LECES – Tugas guru adalah sebagai pendidik untuk menciptakan sikap dan perilaku yang bernilai moral dan agama. Serta sebagai pengajar untuk menyampaikan materi, mengevaluasi dan menilai hasil belajar siswa.

Setidaknya hal itulah yang disampaikan Ria Maria Wulandari, guru SMAN 1 Leces. “Cara menghadapi murid tentunya dilakukan pendekatan untuk mengenal bagaimana karakter dari siswa tersebut. Karena selain menjadi pendidik dan pengajar, guru juga bisa menjadi teman,” kata penghobi kesenian ini, Senin (19/9/2016).

Perempuan kelahiran Jombang, 11 Pebruari 1986 ini mengaku terlahir di keluarga pendidik. Dimana ayahnya adalah seorang guru dan menjadi teladan saat masih SD. Melihat kegigihannya mencerdaskan anak bangsa membuat hasrat untuk menjadi seorang guru semakin kuat.

“Terlebih lagi ketika saya masuk di perguruan tinggi dan mendengar adanya kasus pengakuan cipta karya seni yang dimiliki oleh Indonesia oleh negara lain, sangat memotivasi saya untuk menjadi seorang guru agar dapat mengajak anak didik untuk mengenal kebudayaan yang ada di Indonesia,” jelas istri Fadjar Rukhim ini.

Anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Muhammad Mustofa dan Suminarsih ini mengungkapkan bahwa untuk menjadi seorang guru yang sukses maka harus melakukan pembelajaran secara aktif, inovatif dan kreatif. “Mari kita memberikan yang terbaik untuk bangsa sebagai bentuk pengabdian kita,” pungkasnya.

Categories: Uncategorized