Bulan: November 2013

Waspadai peningkatan impor minyak mentah

No Comments

Jumat, 1 November 2013 17:14 WIB | 4460 Views

2013020471

Wakil Menteri Perdagangan, Bayu Krisnamurthi (kanan), saat konferensi pers mengenai kinerja perdagangan di kantor Kementrian Perdagangan, Jakarta Pusat, Senin (4/2). Neraca perdagangan Indonesia pada Desember 2012 defisit sebesar 155,1 juta dolar Amerika Serikat. (ANTARA FOTO/Fanny Octavianus)

… tantangan tersendiri agar lebih serius menggarap lifting minyak… “

 

Jakarta (ANTARA News) – Wakil Menteri Perdagangan, Bayu Krisnamurthi, memberi peringatan atas kemungkinan peningkatan impor minyak mentah sebesar 29,29 persen pada periode Januari-September 2013, dibandingkan periode sama pada 2012.

“Impor minyak mentah cenderung meningkat dan ini merupakan peringatan ke kita untuk lebih menggenjot produksi atau lifting minyak,” kata dia, di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Jumat.

Data Badan Pusat Statistik, importasi minyak mentah pada Agustus 2013 tercatat sebesar 990 juta dolar Amerika Serikat dan meningkat di September 2013 menjadi 1,1 miliar dolar Amerika Serikat, alias meningkat 20,88 persen.

Dia mengharapkan angkatan minyak mentah bisa meningkat untuk mengurangi importasi minyak mentah yang bisa menekan neraca perdagangan Indonesia.

“Itu tantangan tersendiri agar lebih serius menggarap lifting minyak, karena jika tidak, neraca perdagangan kita akan terus tertekan,” kata dia.

Meskipun demikian, secara keseluruhan, total impor migas Indonesia pada September 2013 menurun 0,06 persen atau setara 2,2 juta dolar Amerika Serikat.

Namun jika dibandingkan antara periode Januari-September 2013 dengan tahun lalu mengalami kenaikan 8,51 persen.

Penurunan tersebut dipicu  impor hasil minyak dari sebelumnya 2,4 miliar dolar Amerika Serikat menjadi 2,2 miliar dolar Amerika Serikat atau sebesar 8,87 persen.

Namun untuk periode Januari-September 2013 mengalami kenaikan sebesar 1,20 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2012.

Sementara itu, total ekspor periode September 2013 terdiri atas ekspor nonmigas sebesar 12,29 miliar dolar AS dan ekspor migas senilai 2,52 miliar dolar Amerika Serikat.

Editor: Ade Marboen

m.antaranews.com

 

Categories: Uncategorized

Artikel : Wanita Jomblo Hingga 35 Tahun Berisiko Kanker Payudara

No Comments

Bagi para wanita yang belum menikah hingga usia 35 Tahun, sebaiknya berhati-hati karena kanker payudara mengintai Anda. Kanker yang menjadi penyebab kematian terbesar pada wanita ini ternyata bisa bersarang di payudara wanita yang belum juga menikah hingga usia 35 Tahun.

Hal itu disampaikan dr Asrul Harsal, SpPD, K-HOM dalam acara Temu Pasien Kanker Payudara yang digelar atas kerjasama Sanofi Aventis dan RS Kanker Dharmais di Hotel Nikko, Jakarta, Rabu (19/8/2009). “Kalau belum menikah hingga usia 35 tahun, berisiko juga kena kanker payudara,” ujar Asrul.

Dibenarkan dr Samuel J. Haryono, SpBK, Onk, seorang wanita yang masih menjomblo hingga batas usia 35 tahun berisiko terkena kanker payudara karena masalah hormonal.

“Wanita yang belum menikah, hormonnya hanya itu-itu saja, yaitu estrogen. Sedangkan wanita yang sudah menikah, bermacam-macam hormon akan bermunculan di tubuhnya dan bertindak sebagai buffer (penyeimbang) dalam tubuh. Jadi, ketika hormon estrogennya tidak diimbangi, kemungkinan ia akan memicu terbentuknya kanker di payudara,” ujar dr Samuel.

Selain belum menikah, masih banyak faktor lainnya yang diduga menjadi penyebab kanker payudara, seperti menikah tapi tidak punya anak, tidak pernah menyusui anak dan mendapatkan menstruasi pada usia dini (9 tahun-an).

RS Dharmais sendiri saat ini mencatat kanker payudara sebagai urutan pertama untuk kanker yang terjadi pada wanita, setelah kanker serviks. Selama 5 tahun terakhir, angkanya mencapai 32 persen sedangkan kanker serviks (mulut rahim) sebesar 17 persen.

“Kanker adalah penyakit multifaktor, hingga kini tidak dapat ditentukan dengan pasti apa penyebab sesungguhnya, tapi umumnya berasal dari pola hidup yang tidak sehat dan masalah hormonal,” ujar dr Asrul.

Biasanya seseorang baru mendatangi dokter ketika kankernya memasuki stadium agak lanjut, sehingga banyak yang kecolongan dan merasa menyesal setelahnya.

Padahal, deteksi dini pun sebenarnya bisa dilakukan wanita jika sudah merasakan ada tanda-tanda keanehan seperti benjolan di payudara tapi tidak nyeri, puting susu masuk ke dalam dan warnanya merah kecoklatan, kulit mengkerut atau timbul borok di payudara, pembesaran kelenjar getah bening di ketiak dan sebagainya.

Tidak dapat dipungkiri, saat ini kita dikelilingi lingkungan yang tidak sehat, rokok, asap polusi dan makanan tidak sehat ada dimana-mana. Pria pun sebenarnya bisa terkena kanker payudara, tapi kemungkinannya hanya 1 persen. Untuk itu, jagalah pola hidup yang sehat dan waspadalah beberapa faktor-faktor risiko berikut ini:

1. Faktor reproduksi, seperti menopause pada umur tua dan kehamilan pertama pada umur tua
2. Penggunaan hormon estrogen
3. Obesitas
4. Konsumsi lemak yang tinggi
5. Riwayat radiasi
6. Riwayat keluarga dan faktor genetik
7. Faktor lainnya seperti disebutkan sebelumnya (belum menikah hingga usia 30 tahun-an, menikah tapi tidak punya anak, tidak pernah menyusui anak dan mendapatkan menstruasi pada usia dini. (Sumber: rileks.com)

Categories: Uncategorized